Inilah Cara Pasutri Saling Up Grade Diri dengan Cinta

Diposting pada
Dalam entitas bisnis, kapital 10 juta dapat berkembang menjadi 100 juta dalam waktu beberapa tahun. Sebaliknya, yang bermodal 100 juta dapat mengalami kerugian dalam waktu lebih singkat. Mengapa?

Sebab, kuncinya bukan terletak pada berapa modal awal, tapi bagaimana pengelolaannya sehingga modal dapat terus berkembang dan meningkat. Dalam urusan pengelolaan modal awal, rumah tangga tak ubahnya perniagaan. Jika tidak di up grade, modal suami-istri saling sekufu saja bisa habis di tengah jalan.

Untuk itu diperlukan langkah-langkah  membangun kedekatan  kesekufuan. Eny Hanum, Psi dan Drs Mhfudz Sidik memberikan  langkah-langkah yang dapat dilakukan, yaitu:

1. Saling mengenal

Saling mengenal dengan baik aspek intelektualitas, kecenderungan, tabiat, kebiasaan, potensi dan juga kelemahan pasangan. Pengenalan ini bukan sekedar untuk dapat memperlakukannya sesuai dengan kondisinya, tapi agar masing-masing memiliki pandangan ke depan untuk meningkatkan potensi  atau menutupi kelemahan yang ada.

2. Temukan strong point

Saling menemukan strong point atau titik komparatif yang dapat menjadi sumber energi untuk menghasilkan kecenderungan atau kedekatan (litaskunu ilaiha). Kita bisa belajar dari rumah tangga Rasulullah saw dan Khadijah ra. Pada diri Muhammad saw, Khodijah menemukan sikap jujur dan amanah. Sebaliknya, pada diri Khadijah, Muhammad melihat  ada sikap kedermawanan yang mencolok.

Strong point ini mampu mengeliminir perbedaan usia, fisik, status  ekonomi dan lingkungan sosial di antara keduanya. Begitu kuatnya, sehingga Rasulullah tidak pernah berpikir menikah lagi sebelum Khadijah wafat, padahal itu menjadi kelaziman dalam budaya Arab. Bahkan, setelah Khadijah wafat, Rasulullah masih sering menyebut namanya dan meneruskan kebiasaan Khodijah memberi hadiah atau makanan pada orang-orang yang dia cintai.

3. Menerima realitas

Saling menerima dan memahami kondisi realitas pasangan sebagai modal luar biasa untuk bisa memaklumi dan memaafkan kesalahan. Ini akan  membuat kita tidak membandingkan kondisi realitas pasangan dengan potret ideal yang ada di kepala. Untuk itu, kecerdasan, kelapangan hati dan kejujuran adalah sikap yang mutlak dibutuhkan. Dalam praktik, umumnya kaum perempuan memiliki kemampuan penerimaan yang lebih tinggi daripada kaum laki-laki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *