Motivasi Cinta Islami yang Hampir Terlupakan (2)

Diposting pada
Motivasi Cinta Islami yang Hampir Terlupakan (2)

Abi dan Ummi, pada episode pertama kisah motivasi cinta Islami ini kita mengenal fulan yang begitu menjaga kekuatan cintanya kepada Sang Pemilik Cinta Sejati yaitu Allah Swt. dengan rela dan ikhlas mengonsumsi sayur selama delapan bulan hanya agar motivasi cinta Islam yang dimilikinya semakin kuat. Tetapi, kasih sayang dan cinta Sang Pemilik Cinta begitu besar sehingga Allah masih memberi ujian kepada fulan agar cintanya semakin erat dan kuat. Karena begitulah sunnatullah-nya bahwa kita tidak akan pernah lepas dari ujian hidup, sebab pada hakikatnya hidup ini adalah rangkaian ujian yang mau tidak mau atau sadar tidak sadar harus kita lalui tahap demi tahap. Semakin tinggi keimanan seseorang maka semakin tinggi pula ujian yang akan datang menerpa. Ibarat kita di bangku sekolahan, jika kita ingin naik ke kelas atau naik level berikutnya tentu harus melalui ujian yang berbeda tingkat kesulitannya di masing-masing level. Jika berhasil melewati setiap ujian tersebut, maka berarti ia layak berada pada level yang lebih tinggi dari sebelumnya, begitu pula dalam ujian hidup. Allah Swt berfirman, ‘Apakah manusia itu mengira, bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui orang-orang yang benar dan pendusta.’ (Q.S. al-Ankabut [29]: 2-3) Dalam ayat lain Allah Swt berfirman, “…Sungguh akan kami uji (iman) kalian dengan kesusahan dan (dengan) kesenangan. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan dikembalikan…” (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 35).

Abi dan Ummi, pada dua ayat tersebut Allah Swt memastikan bahwa ujian dalam hidup adalah niscaya kita dapati, baik ujian dalam kesusuahan ataupun ujian dalam kesenangan.

4. Ujian Hidup dalam Bentuk Kesusahan

Ujian dalam kesusahan salah satunya adalah untuk melatih sifat kesabaran kita, sebagaimana firman Allah Swt; “Dan sungguh akan Kami uji (iman) kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S. al Baqoroh [2]: 155).

5. Ujian Hidup dalam Bentuk Kesenangan

Ujian dalam kesenangan tidak lain untuk menguji kita apakah kita termasuk hamba-Nya yang bersyukur atau justru kufur, Allah Swt berfirman; “…Karunia ini merupakan pemberian Rabbku untuk menguji imanku, apakah aku bersyukur atau aku kufur. Siapa bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, sedang siapa kufur, sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (Q.S. an-Naml [27]: 40).

Ujian yang dihadapi oleh fulan adalah kesempatan untuk meningkatkan karir pekerjaan yang lebih menjanjikan dengan gaji selangit. Fulan mendapat tawaran dari sang atasan untuk melamar disebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang tambang minyak di Asia Tenggara. Tidak tanggung-tanggung, posisi yang ditawarkan adalah sebagai pengontrol data pusat hasil eksplorasi minyak setiap harinya dari setiap sumur bor yang mereka miliki. Singkat cerita fulan lulus tes dan mendapatkan posisi tersebut. Ia bersyukur kepada Allah Swt. karena telah membukakan pintu rezeki-Nya dan berharap apa yang di-azzam-kannya membawa sanak keluarga berkunjung ke tanah Haramain dapat terwujud.

Sebagaimana yang tadi kita bahas pada bagian pertama episode ini, bahwa ujian itu terkadang datang berupa kesulitan atau kesenangan. Pada titik inilah fulan benar-benar diuji kekuatan motivasi cinta Islami yang dimilikinya seperti sebelumnya. Jadwal yang fulan miliki semakin padat, tanggung jawab juga semakin besar karena ia harus mengontrol kelancaran eksplorasi minyak dari perut bumi sehingga data-data yang diperoleh dapat sesegera mungkin di laporkan kepada sang bos dan kepada pemerintah di mana perusahaan tambang multinasional itu berpijak. Fulan mulai berani meninggalkan shalat, semakin asyik dengan pekerjaan baru yang dijalaninya. Ia nyaris tak pernah sholat lagi bahkan untuk sholat jumat pun sudah kadang-kadang. Tak cukup sampai di situ, fulan mulai menjajal aktivitas terlarang lainnya dengan alasan hobi yang selama ini terpendam. Jika dihitung-hitungan aktivitas tersebut dapat menambah pundi-pundi kekayaannya. Fulan semakin jauh terlena dan terseret kedalam gemerlap keindahan dunia, hingga suatu ketika datang pengingat dari Allah Swt. yang menjadi pelajaran berharga hingga menjadi titik balik dan penyeselan yang tiada berkesudahan bagi fulan serta menjadi motivasi cinta islami yang dimilikinya kembali membara…

[bersambung] . . .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *