Motivasi Cinta Islami yang Hampir Terlupakan (3)

Diposting pada
Motivasi Cinta Islami yang Hampir Terlupakan (3)

Abi dan Ummi, Fulan semakin jauh tenggelam dan terlena dengan keindahan dunia. Ia terlibat dalam judi internasional, judi taruhan bola. Tidak tanggung-tanggung, ia menjadi bandar judi dan menjadi salah satu bandar ternama dari negerinya, jaringan mereka pun cukup besar karena menyentuh ranah Asia. Pendapatan tertinggi dari judi bola yang pernah ia tekuni adalah 2,3 M. Dengan harta yang berlimpah ia merasa laksana di atas angin, segala kebutuhan dapat terpenuhi dengan hanya menggerakan telunjuk.

2. Sang Pemilik Cinta Meningatkan Hamba-Nya dengan Cinta

Tibalah pengingat dari Allah Swt. agar ia tetap berada di jalur kebenaran dan tetap menjaga motivasi cinta Islami yang dimilikinya sebagaimana dahulu. Allah memberikan penyakit tidak bisa tidur dalam 24 jam, fulan mencoba dengan segenap tenaga agar bisa tidur namun semua nihil. Bahkan ia mencoba mengunjungi Rumah Sakit ternama dan berkelas seperti Singapura dan Amerika Serikat. Namun, kesembuhan yang diharapkan justru semakin pupus. Para dokter sudah kehabisan cara bagaimana agar ia bisa tidur, obat tidur dengan dosis tinggi pun sudah tidak mempan lagi.

Fulan semakin tersiksa dengan kondisinya yang tidak bisa tidur meski hanya memejamkan mata lima menit, hingga suatu ketika ia mendapat sopir baru pribadi yang berasal dari negerinya sendiri. Sang sopir adalah orang yang senantiasa menjaga motivasi cinta Islami yang dimilikinya, sehingga dalam keadaan apapun selalu terikat kepada Rabb pencipta alam semesta. Sang sopir bertanya perihal sakit yang diderita sang majikan, setelah mendengarkan keluhan sang majikan, sang sopir menawarkan bagaimana jika mencoba berobat dengan pengobatan alternatif. Sang majikan mengiyakan karena ia sudah merasa lelah dengan penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh padahal segala cara sudah ditempuh.

3. Sholat adalah Salah Satu ‘Instrumen’ yang Telah Diwajibkan agar Selalu Menambah dan Mengontrol Motivasi Cinta Islami

Pengobatan yang ditawarkan sang sopir adalah mengunjungi imam besar masjid besar di negeri tempat  ia berkerja. Subhanallah (Maha Suci Allah), beginilah orang-orang yang senantiasa menjaga motivasi cinta islami yang dimilikinya, segala masalah dihadapi selalu dikembalikan kepada Sang Pemberi Ujian (Allah Saw). Sang majikan setuju dan meminta agar segera mengantarkannya bertemu dengan imam tersebut, pergilah mereka menemui sang imam. Setibanya di masjid besar dan bertemu dengan sang imam, fulan mencurahkan segala apa yang menimpanya. Namun, sang imam hanya merespon dengan satu pertanyaan yang boleh jadi sepele namun ternyata efeknya luar biasa. Beliau menanyakan apakah kamu seorang muslim? Tentu saja ia dengan penuh percaya diri menjawab bahwa dirinya seorang muslim. Tetapi tidak cukup sampai di situ sang imam bertanya lagi, bagaimana dengan shalat apakah masih senantiasa dilakukan? Fulan mulai terguncang dan terdiam tak mengucapkan sepatah kata pun, cukup lama ia terdiam mengingat berapa kali ia meninggalkan shalat bahkan mungkin tak terhitung.

Pada akhirnya suara sang imam memecah kebuntuan agar ia tidak perlu malu mengakui jika memang shalatnya bolong-bolong bahkan nyaris tidak pernah dilaksanakan lagi. Sang imam pun melanjutkan, jika ingin sembuh dan sehat kembali cobalah untuk sholat tepat pada waktunya. Kemudian sepuluh hari setelahnya, fulan diminta datang kembali ke masjid tersebut. Subhanallah, ketika ia mulai aktif shalat lagi dan berusaha tepat waktu, ia mulai bisa tidur meski pun hanya satu jam pertama. Semakin hari semakin bertambah jam tidurnya hingga sepuluh hari berikutnya fulan menemui kembali sang imam besar dan menceritakan kembali apa yang terjadi. Kemudian sang imam memberikan tips lagi, jika masih ingin sembuh, ibadahnya harus ditambah lagi dengan tahajud dan dhuha. Ia mencoba dan mencoba seraya menyesali dan bertaubat atas segala apa yang telah dilakukannya. Alhamdulillah pada akhirnya ia merasakan kembali motivasi cinta islami yang menggebu-gebu sebagaimana dulu pernah ia rasakan. Sejak saat itu ia memutuskan untuk fokus dan mendalami lagi agama islam, sehingga ia ijin cuti kepada kantor  tempat ia bekerja untuk mencari pesantren di Indonesia. Saat ini, beliau berada di salah satu pondok pesantren dan fokus belajar agama Islam. Semoga beliau selalu Istiqomah dan berada di jalan yang lurus.

Wa Tawfiqi illa billah… Allahu a’lam bi shawwab…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *